Ada seuntai do’a yang sangat indah dalam Al-Qur’an. Terenyuh saat membaca artinya. Saat diulang lafadznya,.. oh ternyata do’a ini sudah terekam kuat dalam memoriku, karena do’a ini selalu dilantunkan ketika masih kecil dulu saat mengaji di TPA, dari TK hingga lulus SD__ dan do’a itu diucapkan setiap hari.
“…Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu-bapakku. Juga untuk mengajarkan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (an-Naml: 19)
Alhamdulillah, ada tafsir fizhilalil Qur’an yang kudapat ketika menikah,, =)
jadi bisa langsung ku rujuk referensi tafsir ayat yang indah itu..
Subhanallah..untaian do’a indah itu terucap oleh seorang Nabi yang sangat salih, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Saat itu Nabi Sulaiman terinspirasi oleh kawanan semut di suatu lembah semut. Ketika itu sang semut melihat Nabi Sulaiman dan rombongan pawainya. Lalu semut itu menyeru saudaranya (semut yang lain) untuk segera masuk ke dalam sarang semut karena pasukan Nabi Sulaiman akan datang, semata ia merasa sayang kepada saudara yang lain, khawatir saudaranya akan terinjak-injak oleh pasukan pawai Nabi Sulaiman.
“…berkatalah seekor semut, ‘Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.’” (an-Naml: 18)
Nabi Sulaiman mengetahui apa yang dikatakan oleh semut itu. begitu takjub dan senang serta hatinya sangat lapang dengan pemahaman atas perkataan semut itu. Beliau sangat senang dan tersentuh sebagaimana seorang dewasa yang dengan sepenuh kasih berusaha menyelamatkan orang kecil yang ditimpa keburukan. Dalam hati Nabi Sulaiman tidak pernah terlintas untuk menyakitinya dan menimpakan keburukan kepadanya serta dengan lapang dada berusaha selalu menyadarinya.
Semua itu merupakan nikmat Allah kepada Nabi Sulaiman yang menghubungkannya denga alam-alam yang tersembunyi dan terasing dengan manusia karena alat komunikasi yang tertutup dan ada penghalang di antara mereka. Dada Sulaiman menjadi lapang kepadanya. Karena, hal itu merupakan salah satu keajaiban semut yang memiliki kemampuan seperti itu dan dipahami oleh semut-semut lain kemudian mengikuti perintahnya,
Nabi Sulaiman menyadari hal ini.
“Maka, dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu..”
Pemandangan itu benar-benar mengguncangnya dengan ketakjuban dan mengembalikan hatinya kembali kepada Allah yang telah menganugerahkan nikmat mukjizat yang luar biasa itu. juga yang membuka akses kepada alam-alam yang tertutup dan terasing dia segera menghadapkan diri kepada Allah memohon wasilah kepada-Nya, dan terlantunlah do’a indah itu..
Makna do’a :
Rabbi adalah ungkapan seruan yang sangat dekat, langsung, dan memiliki ikatan yang kuat.
Awzi’ni maknanya ‘himpunlah seluruh diriku; himpunlah seluruh anggota badanku, perasaanku, lisanku, hatiku, lisanku, lintasan-lintasan hatiku, getaran-getaranku, kata-kataku, kalimat-kalimatku; himpunlah seluruh diriku; dan himpunlah segala kekuatanku, dari awal hingga ke akhirnya dan dari akhir hingga ke awalnya’. (Itulah makna dari awzi’ni). Himpunlah seluruh diriku agar semua itu berada dalam sikap kesyukuran kepada nikmat-Mu yang Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku. Ungkapan itu menghias nikmat Allah yang dianugerahkan kepada Nabi Sulaiman dan menyentuh hatinya pada saat itu. ungkapan itu menggambarkan bentuk pengaruh dirinya terhadap nikmat itu, kekuatan penghambaannya, dan respons nuraninya yang sangat sensitif.
Sesungguhnya dia benar-benar menyadari karunia Allah atas dirinya dan kedua orangtuanya. Ia merasakan sentuhan nikmat dan rahmat dalam kekaguman dan senandung doanya. Amal saleh juga merupakan karunia Allah di mana setiap orang yang bersyukur kepada Allah di mana setiap orang yang bersyukur kepada Allah diberi taufik untukmelakukan amal saleh itu.
Nabi Sulaiman yang pandai bersyukur memohon pertolongan kepada Allah agar menghimpuun segenap jiwa dan dirinya serta memberinya taufik untuk mensyukuri nikmat-Nya. Bersama dengan itu, Nabi Sulaiman juga memohon pertolongan kepada Allah agar diberi taufik kepada amal saleh yang diridhai-Nya. Nabi Sulaiman sangat menyadari bahwa amal saleh itu merupakan taufik dan nikmat lain dari Allah. Nabi Sulaiman menyadari bahwa masuk ke dalam golongan hamba-hamba Allah adalah nikmat lain dari Allah. Seorang hamba harus berusaha untuk beramal saleh sehingga termasuk dalam golongan itu.
Demikianlah perasaan yang tajam karena ketakwaan kepada Allah, ketakutan dan kerinduan kepada ridha Allah. Juga harapan akan rahmat-Nya pada kondisi yang berlimpah dengan nikmat-Nya sebagaimana seekor semut puun ikut terlibat dalam pertunjukan itu dan Nabi Sulaiman memahami perkataannya dengan pengajaran dan keutamaan dari Allah.
Nabi Sulaiman menyadari bahwa masuk ke dalam golongan hamba-hamba Allah adalah nikmat lain dari Allah. Seorang hamba harus berusaha untuk beramal saleh sehingga termasuk dalam golongan itu. Nabi Sulaiman menyadari hal itu, maka ia bermunajat dengan segenap jiwa raganya agar Allah memasukkan ke dalam golongan orang-orang yang dirahmati-Nya, diberi taufik, dan berjalan di jalur itu.
Subhanallah,.. ia masih harus bermunajat seperti itu padahal ia adalah seorang Nabi yang telah dianugerahkan Allah dengan berbagai nikmat, ia ditundukkan kepadanya bangsa jin, manusia dan burung. Ia belum merasa aman sebelum dipilih oleh Allah dalam golongan tersebut. Ia sangat takut tidak cukup beramal dan tidak sempurna kesyukurannya. Demikianlah persaan yang tajam karena ketakwaan kepada Allah, ketakutan dan kerinduan kepada ridha Allah. Juga harapan akan rahmat-Nya pada kondisi yang berlimpah dengan nikmat-Nya sebagaimana seekor semut pun ikut terlibat dalam pertunjukan itu dan Nabi Sulaiman memahami perkataannya dengan pengajaran dan keutamaan dari Allah.
Referensi : Tafsir Fizhilalil Qur’an (Sayyid Quthb), Jilid 8










