Al-Qur’an Menjawab. “Air Hujan berasal dari Laut,.. Kenapa Tidak Asin??”


Sejak Sekolah Dasar, kita pasti pernah diajarkan tentang proses terjadinya hujan. Seluruh air yang ada di bumi bermuara kelaut, kemudian menguap membentuk awan hingga awan lembab dan semakin memberat, tertiup angin lalu turunlah hujan. Begitu kira-kira cerita singkatnya (versi pemahaman anak SD). 

Timbul pertanyaan ‘menggelitik’ 
“Jika semua air hujan berasal dari laut,.. laut itu rasanya asin. Homogen!. Semua air laut rasanya asin. Lantas mengapa air hujan rasanya tawar? bahkan menyegarkan??” SK (Syarat dan Ketentuan : Jika atmosfernya bersih dari polusi!!)

Saat mengajar di sekolah tentang pemisahan campuran (Inilah salah satu berkahnya menjadi Guru #semakin kaya dengan hikmah, Insha Allah). Salah satu pemisahan campuran secara fisika yaitu dengan penguapan. Contoh paling mudah yaitu memisahkan campuran air garam dengan cara diuapkan (dipanaskan). Dapat dijemur, atau dipanaskan dengan api di atas cawan penguap. Maka, air akan menguap dan garam akan tertinggal. Prinsipnya adalah “Titik didih”!. Contoh lain, seperti pemisahan dengan cara destilasi (berdasarkan perbedaan titik didih) sehingga kita bisa memisahkan atau memurnikan campuran larutan yang berbeda titik didihnya. So, oleh karena itu titik didih dapat dijadikan salah satu identitas fisik (sifat fisika) suatu zat. Yups, get the Answer!!. Perbdaan titik didih

 

Subhanallah, tidak lama dari saya mengajar materi ini, Allah menunjukkan saya sebuah ayat, 

“ Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.”

(Q.S. Ar-Ra’du (13) ayat 17)

“..adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi” >>> Prinsip pemisahan berdasarkan titik didik didih. 

Air titik didihnya 100 °C sedangkan garam (Natrium Klorida) 1465 °C (1738 K). Perbedaan yang sangat tinggi. Subhanallah, Allah memberi sinar matahari dengan jarak yang sangat pas, sehingga energi kalor yang dihasilkan tepat untuk bisa menguapkan air (100 oC). Terbayang jika jarak matahari lebih dekat, mungkin air akan sangat cepat habis (menguap) dan beberapa material lain yang dibutuhkan manusia ikut menguap juga. Juga apa yang terjadi jika jara matahari lebih jauh… “Adakah yang dapat mengatur semua se-presisi ini??” Allohu Akbar..

Image.

“..maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat..”

Saya pernah menyaksikan siaran TV tentang sumberdaya alam Indonesia khususnya di Jawa Barat yaitu “pasir besi”, di satu kabupaten saja potensi pasir besi bisa menjapai puluhan juta ton. Di daerah pesisir, bukan hanya nelayan atau petani garam saja.. ternyata ada petani besi, yang mengangkut pasir besi secara tradisonal untuk kemudian dikumpulkan dan diolah menjadi bijih-bijih besi yang dimanfaatkan kemudian.. waah, ternyata ini juga ada di dalam Al-Qur’an

Image

Yup, dan besi pun tidak ikut menguap.. (titik didih besi 3134 K atau 2862 °C), dia tetap tertinggal di bumi. Sesuai dengan janji-Nya : “..adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi”. Subhanalloh.. semua IA beri, lalu nikmat-Nya mana lagi yang kau dustakan??

hikmah satu lagi…

Lakon-lakon yang disebutkan pada ayat di atas : Air, Logam, buih…

“…Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya..”.

Selalu saja ada.. riak-riak yang meramaikan, namun ternyata tidak berharga. Semoga kita dapat menjadi sebaik-baik manusia, yang memberi manfaat seperti perumpamaan pada ayat di atas, “air.. garam, atau logam..”. Bukan hanya sekedar buih.. yang ramai namun kosong. seperti yang Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam khawatirkan kepada kita, “kelak ummatku akan seperti buih di lautan… mereka banyak, namun ‘hampa’ “

Allahu’alam bishowab 

Let’s IQRA!!
~Laboratorium 24 Jam~

Jumat, 15 maret 2012

 

 

About jinggaempatsatu

House wife, teacher, writer, enterpreneur :) View all posts by jinggaempatsatu

One response to “Al-Qur’an Menjawab. “Air Hujan berasal dari Laut,.. Kenapa Tidak Asin??”

  • Jaka

    mungkin bisa juga kita berpikir kebalikannya.. ketika Allah menciptakan sesuatu sepresisi mungkin, presisi nya pun dibuat oleh Allah.
    ketika Allah menciptakan segalanya secara ideal. Yang menciptakan patokan idealnya pun Allah. Jadi Allah menciptakan segalanya sesuai kehendaknya..

    very nice share. :D

    artikelnya bisa dikembangkan fii. bagaimana Allah menciptakan atmosfer yang menyaring sinar matahari masuk ke bumi cuman yang dibutuhin manusia nya aja; bagaimana Allah menciptakan mata kita bisa ngeliat sinar dari matahari cuman mejikuhibiniu; daan masih banyak lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,843 other followers

%d bloggers like this: