Menunaikan Hak Anak


Semakin hari semakin menantang, perlu amunisi dan nutrisi ilmu. membuka buku Prophetic Parenting, menemukan tema yang sesuai.

 

Menunaikan hak anak dan menerima kebenaran darinya dapat menumbuhkan perasaan positif dalam dirinya dan sebagai pembelajaran bahwa kehidupan itu adalah memberi dan menerima. Di samping itu juga merupakan pelatihan bagi anak untuk tunduk kepada kebenaran, sehingga dengan demikian dia melihat suri teladan yang baik di hadapannya. Membiasakan diri dalam menerima dan tunduk pada kebenaran membuka kemampuannya untuk mengungkapkan isi hati dan menuntut apa yang menjadi haknya. Sebaliknya, tanpa hal ini akan menyebabkannya menjadi orang yang tertutup dan dingin.

Rasulullah saw meminta izin kepada anak kecil yang duduk di samping kanan beliau agar mau memberikan haknya (minum) kepada orang dewasa yang duduk di samping kiri beliau.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Sahl bin sa’ad RA:

Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam diberi minuman. Beliau minum. Sementara di samping kanan beliau duduklah seorang anak, dan di samping kiri beliau duduk orang-orang dewasa. Beliau bersabda kepada anak itu, “Apakah engkau mengizinkanku untuk memberi minum kepada mereka (terlebih dahulu)?” Dia menjawan, “Tidak, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun.” Maka, Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam meletakkan cawan itu di tangannya. Razin menambahkan, “Anak itu adalah al-Fadhl bin Abbas.”

Ketika seorang anak menghadang Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallams sebelum perang uhud (karena merasa haknya diambil), ia berkata kepada beliau kalau aku bergulat dengannya, aku dapat mengalahkannya. Maka, rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam mengizinkan mereka berdua bergulan dan dia pun dapat mengalahkan anak pamannya itu. Tidak ada alasan lagi  bagi Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam selain mengizinkannya menjadi serdadu Muslim.

Apakah ada orang di dunia ini yang lebih tinggi kedudukannya dan lebih banyak tentara dan pengikutnya dibandingkan Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam? Tidak!! Tetapi, walau demikian beliau tetap menerima kebenaran dari seorang anak kecil. Beliau telah mengajarkan dan memberi pengarahan kepada kita untuk selalu menerima kebenaran dari anak kecil tanpa disertai kesombongan, perasaan tinggi hati dan merendahkan anak kecil tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan ad-Dailami dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

Aku berkata kepada NAbi shallallaahu ‘alayhi wa sallam, “Ajarilah aku beberapa kalimat yang bersifat universal dan bermanfaat.” Beliau bersabda, “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah engkau sekutukan Dia dengan sesuatu apa pun. Selalu berpeganglah dengan Al-Qur’an dalam kondisi apapun. Terimalah kebenaran dari siapapun yang membawanya, baik masih anak-anak atau sudah dewasa, walaupun kamu benci dan jauh. Tolaklah kebatilan dari siapa pun yang membawanya, baik masih anak-anak atau sudah dewasa, walaupun kamu cintai dan dekat.”

Family Project Komunikasi Produktif (Day9)


Ini dulu, baru itu

Saya sedang memasak sore, anak-anak bermain dengan mainannya. Maryam minta untuk naik ayunan. Ayunan buatan di rumah, dari hanaroo yang sudah jarang dipakai dan kain sarung. Untuk bermain ayunan itu bagi seusia Maryam (2 tahun) memang perlu bantuan orang dewasa. Berbeda dengan shaffa yang sudah bisa sendiri dan pandai bermain ayunan.

Saya bilang, coba minta tolong ke ayah..tangan umi kotor. Maryam memanggil “ayah, mau ayun-ayuun”, dan saya pun kasih kode ke suami. Saat saya lihat ternyata di sekitar ayunan masih berserakan mainan. Saya sampaikan kepada Maryam. Boleh main ayunan, tapi mainannya dibereskan dulu. Nanti bisa kacugak (terinjak), sakit.. nanti terpeleset jatuh. Gimana…Alhamdulillah, Maryam langsung menurut dan memungut mainannya kedalam box, ayah membantunya. Lalu menaikkannya ke ayunan dan swiing..swiing..

Yang saya rasakan dari kesuksesan komunikasi di atas adalah dari kondisi hati. Hindari keluhan, bisa saja saya mengeluh karena sedang pakpikpuk di dapur. Bantu anak mendapat alasan kenapa mainan harus dibereskan dulu (melatih nalar) sehingga faham, lalu mengkomunikasikannya dengan baik. Memandangnya, juga turut membantunya.. tidak hanya sekedar menyuruh saja.

#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Family Project Komunikasi Produktif (Day8)


Clear and Clarify

Diskusi tentang syiah

Tabayyun itu adalah memastikan suatu berita kepada sumbernya. Hari itu sahabat saya memposting screen shoot tabayun seseorang kepada seorang tokoh yang banyak dikira Syiah, mba “Sidratun Naim”. Seperti biasa, mba Naim menanggapi dengan panjang lebar..dan kesimpulan akhir ada pada kita sebagai pengamat. Apakah beliau syiah atau bukan.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berkunjung ke rumah mba Naim, dan saya belum tahu mengenai isu syiah beliau. Saya takjub dengan kecerdasannya. Seorang PhD dari Kedokteran Harvadr University, yang juga master Public administration, ilmu leadership, dan sebagainya. Saat saya tahu tentang kedekatan beliau dengan tokoh syiah yang ternama dan ada teman mengingatkan bahwa nama anak mba Naim adalah tokoh Syiah. Dari situ saya menyimpulkan hal yang sama dengan kebanyakan, tanpa tabayyun.

Diskusi keluarga ketika itu adalah perihal tabayyun. Saya mengalami masa yang sama saat menerima isu syiah guru kami, founder IIP..Ibu Septi. Seorang rekan pernah meminta saya untuk tidak aktif di IIP karena isu syiah itu. Waduh, berat untuk meninggalkan IIP bagi saya ilmu dan value di IIP itu sangat bagus, juga orang-orang di dalamnya saya temukan banyak orang-orang yang faham dan se-visi. Saya telusuri kebenaran isu itu kepada orang-orang pendahulu IIP, dan mencari kenyamanan di hati. “Ambillah fatwa dari hatimu”. Saya tidak menemui hal yang menyimpang dari ilmu yang diajarkan guru saya, dan kesimpulan fatwa hati dari hasil pencarian saya adalah Bu Septi bukan Syiah.

Suami saya menyampaikan, bahwa Skripsinya membahas tentang budaya tabik di pariaman. Budaya tabik ini adalah budaya orang syiah. Suami juga menjelaskan tentang jenis-jenis syiah,.. ah, seru diskusi dengannya. Bagi seorang saya yang science abis, bertanya kepadanya bagaikan berselancar di google social science..haha.

Suami saya bilang “kenapa tidak ada yang mencap ayah sebagai syiah ya..?. kan ayah menyentuh soal syiah. Yah, siapalah seorang saya”. Mungkin nanti kalau ayah terkenal akan ada yang mengungkit soal ini. Walaaah. Kepedean. Ya, pasalnya isu itu (ujian) mendera sesuai dengan tingkatan level seseorang. Bagi Bu Septi, isu syiah datang disaat beliau sedang menaiki puncak eksistensi. Begitu juga dengan mba Naim.

Berusaha tabayyun, bertanya dari berbagai sumber dan perspektif. Bersihkan hati apa yang ingin dicari. Kesimpulan kami, untuk berguru ilmu adalah kepada siapapun. Baik kepada yahudi, nasrani, bahkan Rasulullah menyuruh kita belajar sampai ke negeri Cina. Apakah rasul membatasi belajar hanya kepada orang muslim saja?. Tapi yang kami tangkap adalah “Belajarlah kepada ahlinya”. Pasti dalam berguru, bermuamalah kita akan bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang yang kepercayaan,etnis yang berbeda. Hal yang benar (Haq) itu jelas, yang salah (bathil) juga jelas. Al-qur’an adalah sumber ilmu dan petunjuk pembedanya (Furqan). Hati dan akal kita adalah senjatanya.

 

#day8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Family Project Komunikasi Produktif (Day7)


Meninggikan standar

Refleksi komunikasi produktif kali ini adalah berdiskusi dengan pasangan. Saya menyampaikan tentang anak-anak. Shaffa itu keinginannya kuat. Dia belum mau pakai jilbab ke luar. Saat disodori, ia sering menolak tanpa alasan. Kekeuh tidak mau. Saat dibujuk lagi, dia bilang itu suka gatal. Saya carikan jilbab yang adem.. kadang mau,kadang tidak. Suami bilang sudah ngga perlu dipaksa, belum saatnya juga.

Iya, saya tidak memaksa. Jika tidak mau saya tidak memaksa untuk pakai jilbab. Diskusi kami tiba pada tantangan mendidik anak di akhir zaman. Anak kita besar nanti, entah zaman seperti apa yang akan dihadapi. Maka kita perlu meninggikan standar mendidik mereka. Bukan meninggikan standar memaksa, namun meninggikan standar kita dalam membersamainya, dengan berkualitas sesuai dengan standar yang sempurna. Standar Islam.

Bagaimana memahamkan dia soal berjilbab, sholat, dan perkara baik lainnya. Mereka belum memasuki masa tadrib (pembebanan), tugas kita terus menumbuh suburkan fitrah keimanannya. Menyampaikan harapan kita kepadanya. Harapannya kita bisa percepatan, sehingga anak dapat menaiki tangga demi tangga pembelajaran dan kemandirian. Squad tim. Kita harus jadi tim yang solid. Ini amanah berat, angin zaman semakin kencang.

 

#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Family Project Komunikasi Produktif (Day6)


Berhenti menakut-nakuti anak (2)

Pelajaran dari hari sebelumnya, berusaha diaplikasikan lagi. Menakut-nakuti anak sering saya lakukan saat mereka sulit keluar kamar mandi. Setiap anak pasti suka air..dan setiap mandi mereka pasti bermain. Hal yang paling jitu adalah bilang : “kalau lama-lama di air nanti tikus datang dari lubang” sambil menunjuk lubang pipa di atas.. dengan mudah mereka turun dari jolang  sambil bilang. Iih, takuut.

Namun hari itu saya berusaha menghapus sedikit demi sedikit cara itu. Ketika itu hanya Maryam saja yang sedang mandi. “Maryam, ayo…sudah mau magrib. Nanti kedinginan….” Masih anteng. Karena dia suka makan, saya bilang.. “ini umi masak baso lho..nanti habis sama shaffa”. Ketika itu saya masak bihun baso. Dia langsung beranjak dari kenyamanan berendam di ember.

Ada hukuman ada reward.

Usia anak masih sangat konkret, ia akan bertindak sesuai dengan dorongan (apa) yang ia rasakan. Bisa karena apa yang ditakuti, bisa karena apa yang ingin ia dapatkan. Bertindak karena ketakutan sama dengan membekali (menginput) memori-memori ketakutan, sehingga di kepalanya akan banyak hal yang ditakuti. Namun bertindak karena hal yang ia senangi, ia belajar berjuang. Melakukan usaha untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Alhamdulillah, melakukan projek dan menuliskannya membuat saya merefleksi hikmah.

 

#day6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Family Project Komunikasi Produktif (Day5)


Berhenti menakut-nakuti anak

Usia Shaffa 4.5 tahun dan Maryam 2.5 tahun masing-masing masih ada di masa egosentris, terkadang mereka berebut tidak mau kalah. Terkadang hal yang sepele, seperti berebut umi atau berbagi tempat duduk.. dua-duanya ingin di spot itu,padahal masih luas bagian sofa yang lain.

Begitu juga prosesi akan tidur, terkadang lancar, setelah membaca cerita mereka tertidur. Ada kalanya juga dengan proses drama, seperti hari itu mereka berebut posisi. Ketika itu saya sudah lelah dan mengantuk dan ayahnya ada agenda malam. Saya ceritakan kepada mereka untuk cepat tidur, kalau tidak nanti ada tikus dan kecoa berdatangan sambil saya beberkan selimut. Seketika Maryam menangis dan ketakutan, meminta dirinya ditutup selimut bersama saya dan tidak mau dilepas. “takuut…”. Jadilah ia menangis ingin digendong. Ia memeluk saya erat..

Astagfirullah, komunikasi saya tidak efektif. Mengapa dengan cara seperti itu?. Sambil menggendong saya merenung. Saya lelah dan mengantuk, kehabisan energy untuk memperpanjang nalar. Menakut-nakuti adalah jalan pintas untuk mempercepat mereka menurut. Tapi efeknya tidak baik.

Saya tekadkan pada diri, meski saya ibu bekerja datang kerumah tidak dengan tenaga sisa atau bahkan anak jadi dampak dari kelelahan saya karena aktivitas di luar. Saya harus memperpanjang konsentrasi dan energy, bertahan bersabar hingga mereka tidur dan terlayani dengan baik. Karena klien (amanah) utama saya yang utama adalah rumah dan penghuninya. “Qaulan sadiida..” kata-kata yang baik itu tantangannya besar. Lipatgandakan energy, perpanjang nalar, bantu dengan senjata do’a.

#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Family Project Komunikasi Produktif (Day4)


Membujuk Maryam saat ingin sate

Setiap habis magrib, tukang sate panggul berteriak sambil keliling komplek “te satee…”, dengan logat Madura asli. Shaffa, terutama Maryam selalu meminta. Ketika itu kami sedang mengaji, Maryam menarik mukenaku ‘umi..mau sate’. Saya hanya menggeleng..ngga kan sudah makan’, dia bersikeras. Ga mau, mau satee. Sambil agak berteriak. Dia menarik pipi saya: umi mauu”.

Saya terapkan komunikasi efektif, terutama dengan eye contact dan Bahasa tubuh. Saya pandang wajah Maryam dengan sempurna lalu saya sampaikan: Maryam..kita kan sudah makan, tidak beli sate lagi nanti kekenyangan. Lagipula Maryam kalau makan sate selalu tersisa..jadi mubazir, kasihan satenya sediih..disertai ekspresi wajah. Ayo, kita lanjutkan lagi mengaji..sambil saya peluk dari samping dan mengarahkan lagi alquran (mengalihkan perhatian).

Alhamdulillah, Maryam menurut…

Esok harinya, saat Mba Sate lewat lagi Maryam malah bilang

“umi…ngga beli tate yah, kan udah makan..”.

Nyesss…rasanya.

 

#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Family Project Komunikasi Produktif (Day3)


Menyamakan FoE dan FoR dengan pasangan, serta clear and clarify.

Suami mengabarkan kalau tanggal 28 januari akan ke luar kota (ke Kuningan), mau menengok anak temannya yang lahiran premature. Mendekati tanggal 28 jan suami bertanya di WA.. “mi, masih ada dana kan..untuk ayah ke Kuningan nanti”. Hadeeh..dari situ saya mulai keberatan, karena keuangan juga mepet. Lalu, dua hari sebelum ke kuningan, ada permintaan meeting dengan klien di tanggal 28 januari itu. Yess, saya merasa punya argument kuat untuk membatalkan kepergian suami ke Kungingan. Argumen saya “Ayah ini kan berkaitan dengan pekerjaan..ke kuningan titip salam saja.” (sempat ada prasangka: Sepertinya ayah pengen ketemuan-ketemuan saja sama teman-teman kuliahnya).

Mengingat evaluasi sebelumnya, saya clear-kan dan coba samakan dulu Frame of Experience..

‘ayah penting pergi ke kuningan?’. Suami menjelaskan bahwa rekannya itu, ketika menikah tidak ada rekan seangkatannya yang hadir. Sekarang istrinya melahirkan dan anaknya sakit..ini bentuk kepedulian teman2. Lalu suami yang merental mobil dan menjadi supir.. berat untuk dibatalkan. Saya coba fahami..dan menerima. Saya posisikan diri sebagai suami, dan membayangkan rekan kuliah saya demikian… kira-kira keputusan apa yang akan saya ambil. Bismillah, ini niatan yang sangat mulia.

Setelah melakukan hal itu..saya merasakan berbeda dengan asumsi (prasangka) saya diawal kalau suami hanya mau meetup2 saja.. Kami coba sampaikan kepada klien bahwa tidak bisa bertemu di hari sabtu karena sudah ada agenda keluar kota. Alhamdulillah klien memaklumi dan pertemuan dengan klien berlangsung di hari minggu. Alhamdulillah, Allah mudahkan dan penuhi

#day3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Family Project Komunikasi Produktif (Day2)


Clear and clarify

Memastikan jadual dengan suami, masih ada miskomunikasi. Ternyata tidak di-clearkan keputusannya bagaimana. Masing-masing bertindak sesuai asumsinya. Umi ingin begini: nanti ayah ke kampus, kita pergi sama2 ke rumah sakit (jenguk sahabat lahiran) karena saya bawa anak-anak, pasti akan repot. Ternyata suami tidak melakukan itu. Saat saya menelfon dan bertanya ayah dimana? Sudah di rumah..mau service motor. Efek teknologi yang serba mudah ini, pesan sangat mudah dan murah dikirim. Konfirmasi apa dan kapan saja juga mudah. Sehingga sikap tegas dan komitmen menjadi tantangan yang sangat banyak godaannya.

Alhamdulillah ini jadi forum keluarga, evaluasi dengan pasangan. Oh..ternyata tadi pagi pendapat saya masih berupa usulan, belum disepakati. Saya masih bergerak berdasar asumsi..nanti suami mau nyusul. Suamipun bertindak dengan asumsinya: Lebih baik nengoknya nanti aja kalau sudah di rumah, karena ribet juga teknisnya (perihal transportasi). Ketika di awal, saya maupun suami tidak menegaskan bagaimana kesimpulan finalnya. Perbaikan komunikasi kami kedepan: Clear and Clarify.

#day2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Family Project Komunikasi Produktif (Day1)


juga yang saya lakukan kepada anak-anak, sebisa mungkin menjawab dan berkomunikasi dengan sempurna. Saya berusaha menurunkan badan hingga setara dengan tinggi anak, lalu berbicara dengan memandang matanya. Right, komunikasi adalah pekerjaan hati. Kita mentransfer pesan dari hati..maka sentuhlah dengan hati.

Mulut adalah pelakunya, tetapi mata bagaikan pintu yang membawa interaksinya (mengetuk hati). Alhamdulillah, terasa semakin efektif komunikasi yang dijalin. Tapi karena masih pembiasaan, jadi terkadang masih sering lupa.

“Fa aqim wajhaka..” (QS.30:30) “dan hadapkanlah wajahmu dengan sempurna..”. Ini arti harfiah yang jelas, kita hadapkan wajah dengan sempurna.

 

#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip