Tantangan Belajar Kreatif. Mengurai makna Kreatifitas


Materi kelas Bunda Sayang kini tiba di level ke-9, yaitu tentang Kreativitas. Saat Ibu Septi membuka diskusi, beliau membuka dengan games yang penyelesaiannya melatih kita untuk berfikir kreatif. Think out of the box. Diskusi mengalir, mengambil hikmah dari setiap games dan slide yang disampaikan. Secara tak sadar kami telah masuk ke dalam materi inti.

Gaya pembelajaran seperti ini sangat menyenangkan. Kelas orang dewasa. Kami diajak berfikir, menginsight satu hal. Sehingga semua peserta adalah pematerinya. Narasumber menjadi fasilitator yang membawa alur. Dari sesi ini, saya merasakan satu proses kreatif dalam berdiskusi. Satu step yang membuat kita faham, bukan hanya sebatas diberi tahu. Learn, not just tell.

Diskusi ini dilengkapi dengan E.book tentang kreativitas dari Kresna Aditia. E.Book ini berupa gambaran umum bahwa anak kita sudah diciptakan kreatif. Allah mencipatakan setiap anak dengan keunikannya masing-masing. Sehingga stimulus, gaya belajar, tidak bisa dibuat sama rata. Sebagian besar usia anak umumnya dihabiskan di sekolah. Sekolah yang tidak memahami personalisasi anak, pasti akan membuat standar yang seragam sehingga memadamkan fitrah keunikannya.

Pandangan saya pribadi tentang kreativitas:

Kreatifitas adalah proses berfikir untuk memecahkan masalah (mencari solusi).

Lalu saya cari makna Kreatif dalam kamus besaar bahasa Indonesia, yaitu:

1 memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; 2 bersifat (mengandung) daya cipta.

Right. Bahwa hasil dari berfikir kreatif adalah tercipta suatu produk. Hasil berfikir. Dalam paradigma saya, produk itu adalah solusi atau jalan keluar dari suatu permasalahan.

Kreatif bisa berkaitan juga dengan aspek psikologis. Orang yang kreatif adalah orang yang struggle terhadap permasalahan, tidak lari dari masalah. Misalnya saat sedang tidak ada budget, bagaimana kita bisa mengisi kegiatan anak dengan cara yang menyenangkan dan edukatif. Kita bisa memanfaatkan alam untuk belajar. Keluar rumah mengumpulkan berbagai jenis daun, bunga yang berguguran lalu klasifikasikan berdasarkan warna, bentuk,dsb. Atau ajak anak untuk bereksplorasi lebih dan mempresentasikan apa yang didapatnya.

Jika melihat dari taxonomi bloom, atau tahapan capaian belajar. Menurut saya kreatifitas adalah tahap aplikasi. Ia adalah rangkaian atau produk dari dasar ilmu dan pemahaman yang dimiliki kemudian dilatih menjadi proses kreatif. Proses kreatif yang terus dilatih, dianalisa, dievaluasi maka akan dapat menghasilkan suatu produk atau hasil karya yang original, daya cipta. Inilah capaian pembelajaran yang paripurna. Bahwa sesorang diciptakan untuk satu misi khusus, menciptakan sesuatu yang dibutuhkan peradaban ini. Bukan melakukan banyak hal sehingga tidak fokus dan tidak menghasilkan karya yang bermakna. (Jleb!. Ini adalah remainding untuk saya oribadi).

 

Continue reading “Tantangan Belajar Kreatif. Mengurai makna Kreatifitas”

Advertisements

Meramu camilan Rabu


Camilan Rabu adalah istilah suplemen materi untuk para ibu di kelas belajar Bunda Sayang Institut Ibu Profesional yang disajikan setiap hari rabu. Camilan Rabu berisi tentang materi yang sedang dibahas pada bulan itu. Materi camilan disiapkan oleh para fasilitator secara bergiliran.. pada bulan ke-6 ini saya dan seorang partner bertugas untuk menyiapkan camilan Rabu yaitu mengenai Membuat anak menyukai matematika.

Pekan pertama partner saya menyajikan tulisan mengenai apa pentingnya mempelajari matematika. Kali ini saya menyusun materi bagaimana perkembangan kognitif anak dalam berfikir logis matematis. Saya meminjam dua buah buku di kampus yang berkaitan dengan psikologi belajar dan psikologi pendidikan. Setelah saya cari materi yg relevan di sua buku tersebut saya putuskan untuk menggunakan satu buku yaitu Psikologi belajar karena lebih runut dan mudah difahami. Selain itu saya lengkapi beberapa contoh capaian logis matematis dari artikel di internet.

As usual, mengerjakan di waktu deadline..setelah baca2 dan menemani anak tidur, saya ikut ketiduran. Alhamdulillah bisa mengerjakan pukul 4 subuh sampai pukul 6.

Setelah membaca sebagian materi dibuku dan meramu tulisan, saya jadi faham bahwa kemampuan logis matematis itu bukanlah hal yang instan atau given yang otomatis menjadi mahir. Baru saja kemarin saya mendampingi seorang mahasiswa yang sangat kurang dalam ilmu kimia, untuk menghitung hal sederhana saja ia masih sulit.

Menyelesaikan persamaan dan rumus itu adalah perihal yang sangat abstrak dan banyak logika terlibat di sana. Perjalanan menuju hal itu ternyata sangat panjang, melalui berbagai tahap perkembangan yang harus dicapai. Bersabarlah berproses, teruslah belajar, berikan stimulasi yang tepat, tetap buat mereka belajar dengan bahagia..

 

🍪Cemilan Rabu Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. 26 Juli 2017 🍪

🔅Tahapan perkembangan Kognitif (Logis-matematis)🔅

Kemampuan Logis matematis merupakan ranah kognitif. Kognitif adalah salah satu domain atau wilayah ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa (Chaplin, 1972).

Jauh sebelum anak berurusan dengan simbol abstrak dan rumus, ia akan menemukan matematika dalam berbagai benda yang dilihat dan disentuhnya. Semakin berkembang pengetahuan anak, apalagi dengan stimulasi yang tepat dari orangtua dan lingkungannya, anak akan semakin mampu menerapkan dasar-dasar konsep matematika seperti mengklasifikasi, membandingkan, menyusun urutan dan berhitung.

Tahap Perkembangan Kognitif manusia (versi Piaget) dan capaian Logis matematisnya (dari berbagai sumber)

🔅Tahap Sensori-motor (0-2 tahun)
Biarkan anak berinteraksi dengan lingkungannya, mengenal berbagai benda, suara dan keadaan. Anak akan mengasimilasikan skema sensori-motor sedemikian rupa dengan mengerahkan kemampuan akomodasi yang ia miliki hingga mencapai ekuilibrium yang memuaskan kebutuhannya,

Usia 0-1 tahun, anak suka mengamati apa saja yang ada disekitarnya yang dapat dijangkau dengan mudah.

Usia 1,5 – 2,5 tahun anak memiliki kemampuan _object permanence_ (ketetapan adanya benda) sehingga dapat mulai mengklasifikasikan obyek berdasarkan warna, bentuk dan fungsi. Apabila anak mulai berbicara, kesadaran terhadap konsep besar dan kecil akan berkembang dan memasuki tingkatan konsep lebih besar atau lebih kecil dengan membandingkan berbagai benda.

🔅Tahap praoperasional (2-7 tahun)
Muncul kapasitas kognitif baru yaitu _representation_ (representasi), atau gambaran mental. Anak dapat berpikir dan menyimpulkan eksistensi sebuah benda atau kejadian tertentu walaupun benda atau kejadian itu berada di luar jangkauan panca inderanya.

Pada usia ini muncul gejala belajar berdasarkan titian akal _(insight learning)_, anak mulai mampu melihat situasi problematik (memahami bahwa sesuatu mengandung masalah) dan berfikir sesaat, sehingga muncul reaksi ‘aha’ dan ia mampu memecahkan masalahnya.

Kemampuan logis-matematis:
– mengenal konsep persamaan dan perbedaan (laki-laki perempuan, siang-malam,)
– mengelompokkan benda berdasarkan warna, jenis,
– menentukan posisi (luar-dalam, atas-bawah, kiri-kanan, depan-belakang)
– mengenal dan mengidentifikasi bangun geometri,
– menghubungkan ukuran dengan benda yang ada di sekitarnya,
– memperkirakan ukuran jumlah (panjang-pendek, berat-ringan, penuh-kosong)
– mengurutkan benda berdasarkan ukuran,
– mengamati perubahan bentuk cair-beku-uap-embun
– mengidentifikasi perubahan benda (rasa, bau, warna)
– Mengenal konsep waktu berkan kegiatan
– mengenal konsep hari
– mengenal konsep dan lambang bilangan 1-20

🔅Tahap Konkret-Operasional (7-11 tahun)
Pada tahap ini anak memperoleh tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berpikir). Kemampuan ini berfungsi untuk mengoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam sistem pemikirannya sendiri.

Sistem operasi kognitif yang meliputi:
🍡 _Conservation_ (konservasi/pengekalan) adalah kemampuan anak dalam memahami aspek-aspek akumulatif materi seperti volume dan jumlah. Anak yang mampu mengenali sifat kuantitatif benda akan tahu bahwa sifat kuantitatif benda tersebut tidak akan berubah secara sembarangan.
🍡 _Addition of classes_ (Penambahan golongan benda), kemampuan anak dalam memahami cara mengombinasikan beberapa golongan benda yg dianggap berkelas lebih rendah, seperti mawar dan melati lalu menghubungkannya dengan bunga. Juga sebaliknya, dari tinggi ke rendah. Misalnya bunga menjadi mawar, melati dan seterusnya.
🍡 _Multiplication of classes_ (pelipatgandaan golongan benda), kemampuan yang melibatkan pengetahuan mengenai cara mempertahankan dimensi-dimensi benda (misalnya warna dan tipe bunga) untuk membentuk gabungan golongan benda (misalnya mawar merah, mawar putih, dan seterusnya), juga kemampuan sebaliknya yaitu memisahkan gabungan golongan benda menjadi dimensinya tersendiri. Warna bunga mawar terdiri atas merah, putih dan kuning., dan seterusnya

🔅Tahap Formal-Operasional (11-15 tahun)
Disebut sebagai perkembangan kognitif tahap akhir, pada usia ini anak menginjak remaja. Pada tahap ini seorang remaja dapat mengatasi keterbatasan pemikiran konkret-operasional sehingga ia memiliki kemampuan mengoordinasikan dua ragam kemampuan kognitif :
🍡Kapasitas menggunakan hipotesis. Dalam hal ini seorang remaja berpikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia respons
🍡 Kapasitas menggunakan prinsi-prinsip abstrak. Seorang remaja akan mampu mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak, seperti ilmu agama (misalnya ilmu tauhid), ilmu matematika dan ilmu-ilmu abstrak lainnya dengan luas dan lebih mendalam.

Dua Kapasitas kognitif ini sangat berpengaruh terhadap kualitas skema kognitif karena pada tahap inilah seseorang dianggap telah mulai dewasa dan memiliki kedewasaan berpikir.

DAFTAR PUSTAKA

Syah, Muhibbin. 2015. Psikologi Belajar. Rawajali Pers. Jakarta.

Kecerdasan logika-matematika Anak Usia Dini.http://ekacahyamaulidiyah.blogspot.co.id/2014/02/kecerdasan-logika-matematika-anak-usia.html

Merancang Family Project


dayroject pertama family project kami adalah mengurangi gadget time anak-anak, karena ini hal yang sangat urgent menurut kami. Setelah mencoba mengurai penyebabnya, hal ini berawal dari kesibukan kami. Kami berdua sepakat untuk membersamai tumbuh kembang anak-anak berdua tanpa pengasuh. Posisi rumah kami yang berdekatan dengan orangtua, memudahkan kami untuk menitipkan anak ketika kami berdua sama-sama ada keperluan.
Di rumah orangtua sudah saya sediakan mainan, buku cerita dan alat gambar. Namun sepertinya godaan gadget semakin aduhai. Ditambah lagi TV LCD layar lebar dengan sajian Disney junior membuat Shaffa dan Maryam lebih betah di rumah eyangnya. Ibu saya sangat mudah memberi Maryam Youtube di HP. Jika saya pulang, Shaffa pasti minta saya meminjamkan tablet untuknya. Terkadang saat saya pulang ia menyambut saya lalu menyerbu tas saya, mencari tablet >.<
Memberi projek kegiatan kepada anak saat dititip di rumah orangtua belum bisa menjadi solusi, karena orangtua akan kerepotan. Sudah dititipi anak, dititipi projek aktivitas pula. Selain itu, maryam sangat susah pulang jika sudah dengan ibu saya, dan sering meminta digendong. Maryam menjadi sangat manja. Ibu saya akan lelah dibuatnya.
Sehingga projek yang kami sepakati adalah:
Untuk saya dan suami, mengatur jadwal dan konsisten. Betul, kami berdua sibuk dan punya urusan, tapi pertarungan kami adalah masa depan dan hak anak. maka, kami sepakat. Saya berangkat lebih pagi untuk pulang siang sehingga suami bisa beraktifitas di siang hari. Jika saya ada keperluan agak lama (full day) saya mesti mencari hari dimana suami free day dan dapat full di rumah bersama anak-anak.
Memperkaya kegiatan untuk anak-anak. Agar teralihkan perhatiannya dari layar.

Tantangan Kemandirian Maryam


Keberhasilan perdana Maryam pup di atas WC ternyata sudah dimulai sekitar sepekan sebelumnya, sebelum tantangan kemandirian bunda saying dimulai. Ketika itu kami bepergian dan saya mampir ke kampus mengambil barang anak-anak bersama ayahnya dan maryam ternyata minta pup. Suami melatihnya untuk berani di atas closen (wc duduk), masih sambil dipegangi.

Alhamdulilah saat bersama saya di rumah maryam sudah mau dikondisikan untuk pup di wc meski masih minta dibantu dan belum berani melepas pegangan saat jongkok. Saat dititip di rumah orang tua karena wc duduk maryam belum berani dan tidak ada alat bantu untuk anak. karena ketidak konsistenan ini maryam kadang suka lupa jika di rumah ia belum reflex untuk ke atas wc, masih harus diingatkan.

Kemarin (selang 3 pekan), maryam minta sendiri untuk pup di atas wc. Dan berujar sendiri “yee..aku pintar… bisa di atas” 😀

#kuliahbunsayiip
#day2
#tantangan10hari
#tantangankemandirian

Kami & Toilet Training


Tantangan Bunda Sayang bulan kedua adalah melatih kemandirian anak. Sebagai seorang fasilitator, saya bertugas memandu peserta untuk berdiskusi mengenai materi dan tantangan kemandirian yang diambil. Timbul pertanyaan dari peserta bagaimana cerita sukses saya melakukan toilet training dengan keadaan sambil bekerja.

Kesadaran melakukan (mempercepat) toilet training bermula dari sebuah perbincangan para ibu muda di grup angkatan S-2. Kami berdiskusi mengenai clodi versus diapers. Clodi (cloth diapers) adalah diapers yang terbuat dari kain sehingga bisa digunakan kembali. Tanggapan teman-teman beragam. Ada yang berpendapat dari segi higienitas, bahwa lebih baik menggunakan diapers karena clodi dicuci ulang belum tentu sepenuhnya bersih. Ada yang berpendapat dari segi efektifitas. Clodi tidak efisien dan efektif karena perlu waktu mencuci, mengeringkan, menyetrika. Dengan memakai pospak waktu bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang lebih produktif. Seorang rekan menilai dari segi ekonomisnya. Saya sebagai seorang yang peduli lingkungan menilai dari segi lingkungan. Betapa bumi ini sudah sangat lelah dengan limbah yang terus bertambah. Saya mendukung clodi, pospak biarlah menjadi alternatif. Kemudian seorang rekan yang lebiih senior dari kami berpendapat dengan sangat bijak.

Pospak, clodi bukan pilihan. Mau pakai pospak atau clodi, tugas utama kita adalah memandirikan anak, membuatnya segera bisa ke kamarmandi sendiri. Melepas sedini mungkin pospak dan clodi dari kehidupannya. Jangan merasa nyaman dengan pilihan pospak atau clodi. Lalu dia pun berbagi, saat anaknya usia 1 tahun, lepas total diapers. Lap pel menjadi senjatanya. Padahal ia adalah ibu bekerja.

Saya juga seorang ibu bekerja, alhamdulillah bergabung di komunitas IIP dan CERIA ketika itu. Dalam pematerian dan diskusi langsung dengan Bu Septi mengenai Kemandirian anak di grup CERIA, saya bertanya tentang melatih toilet training. Bu Septi menyampaikan bahwa kuncinya adalah konsisten, setidaknya perlu waktu 6 bulan. Ketika itu anak pertama (shaffa) menginjak usia 2tahun dan saya sedang hamil anak ke-2. Bismillah, saya coba konsistenkan latihan toilet training shaffa. Menjelang akan melahirkan Maryam, ada waktu cuti. Saya optimalkan toilet training shaffa. Betul sekali apa yang disampaikan Bu Septi. 6 bulan berselang, shaffa lulus toilet training (usia 2.5 tahun), tidak lama adik shaffa lahir. Alhamdulillah, jadi kakak dengan sudah mandiri toiletnya…

Berkaca dari pengalaman anak pertama, saya lebih dini melatih Maryam toilet training. Usia 1 tahun sudah mulai disounding dan simulasi ke toilet. Karena saya menyambi bekerja, konsistensi sangat menantang. Saya baru fokus toilet training usia Maryam 18 bulan. Alhamdulillah menjelang 2 tahun Maryam lulus asi sekaligus toilet training. Tahapan – tahapan toilet training yang bisa dibagi :

  1. Melakukan sounding kepada anak, lebih mudah melalui dongeng. Rutinitas anak-anak sebelum tidur adalah mendongeng. Aspek kemandirian yang sedang ingin ditanamkan bisa kita masukkan melalui dongeng, alhamdulillah lebih mudah untuk memahamkan instruksi selanjutnya
  2. Pelajari ritme anak ke toilet. Dimulai dari bangun tidur, langsung ajak anak ke kamar mandi. Siram kakinya agar merasakan sensasi dingin (merangsang pipis). Jika ada yang menggunakan potty, tetap lakukan di dalam kamar mandi..karena yang kita latih adalah kebiasaan ke toilet, bukan hanya pipisnya saja. Selanjutnya ajak anak ke kamar mandi sesuai dengan ritme yang sudah diketahui
  3. Komunikasi produktif. Beri instruksi yang jelas kepada anak. Pada awalnya instruksi saya : Kalau mau pipis/ee bilang ya “mi…mau pipis/ee”. Yup, ia hanya sekedar bilang..memberi tahu. Suatu ketika saya sedang repot memasak, Maryam minta pipis. Lalu dengan nada mengomel saya minta ia ke kamar mandi dan pipis sendiri. Saya fikirkan lagi, instruksinya masih belum diubah, masih sebatas : kalau mau pipis bilang ya. Maka dari sana saya ubah instruksi. ‘Maryam pergi ke kamar mandi lalu buka celana, pipis deh…’ sambil saya simulasikan. Termasuk saat anak kebocoran pipis tidak di Kamar mandi, jangan panic/marah duluan. Komunikasikan dengan baik kepada anak untuk tidak beranjak karena bisa terpeleset. Amunisi sudah siap, kain lap tebal (saya memakai kain pernel bayi) buat menyerap pipisnya lalu dibersihkan kemudian.
  4. Konsisten, kunci utamanya. Saat totee dimulai, pantang pasang diapers. Anak akan bingung jika selang-seling, saya memahami itu. Setelah anak sudah mulai terlatih dia akan lupa lagi karena ritmenya berbeda. Tiba-tiba dibiarkan boleh pipis di diaper/clodi. Baik saat tidur maupun bepergian. Saya siapkan alas ompol saat tidur, saat bepergian saya terus sounding dan ditanya berulang. Mau pipis/ee?. Saya juga membawa bekal baju ganti (untuk saya) kalau-kalau dia bocor saat tidur di pangkuan. Jangan berikan diapers/clodi biarkan anak merasakan sensasi tidak nyaman saat kebocoran. Berikan instruksi yang sama kepada asisten, sehingga anak menerima hal sama meskipun tidak bersama kita.
  5. Terus tanamkan kepercayaan kepada anak dengan memberikan kata-kata positif, InsyaAllah menjadi doa. “Maryam pinter..pipisnya bisa di kamar mandi”.
  6. Berikan reward saat berhasil, bisa dengan pujian dan antusiasme kita. Saya membuat bintang dari kain flannel lalu ditempel di tembok saat maryam berhasil. Ada perlakuan yang berbeda saat ia berhasil dan tidak, itu akan melekatkan memory dan memotivasinya. Saat ia bocor, perlihatkan rasa kecewa atau sedih kita “yah..maryam lupa ya pipisnya. Umi sedih deh..:( “
  7. Amunisi semangat dan kesabaran tanpa batas, memohon kepada Allah dengan doa dan doa. Ini tak kalah penting..

Sekarang (Maret 2017) usia Maryam menginjak 2tahun 5 bulan dan Shaffa 4 tahun 8 bulan. Saat forum keluarga, saya dan suami sepakat untuk menuntaskan maryam perihal toiletnya. Meskipun sudah bisa ke toilet, untuk pup masih belum berani di atas closet. Jadi tantangan pekan pertama untuk maryam adalah pup di atas closet, dan untuk shaffa adalah meminta tanpa berteriak.

#tantangan10hari
#day1
#kuliahbunsayiip
#tantangankemandirian

Aliran rasa tantangan Komunikasi Produktif


Mengambil tantangan mengamalkan Komunikasi Produktif adalah pembelajaran yang sangat luar biasa, terutama bagi seorang saya yang memiliki kelemahan dalam hal komunikasi. Komunikasi adalah menyampaikan pesan, pintu masuk penerimaan seseorang kepada kita sebagai pemberi pesan. Dari tantangan yang sudah dijalankan, saya menemui berbagai temuan baru bagi diri saya, evaluasi yang dapat dijadikan hikmah untuk perbaikan kedepannya.

  1. Gestur dan Bahasa tubuh, tatapan mata. Ini perlu saya biasakan agar menjadi habit dan karakter
  2. Kosongkan gelas. Hindari berasumsi. Komunikasi juga adalah menerima informasi. Jika sudah ada asumsi, terutama asumsi yang negative komunikasi sudah tidak akan clear lagi. Tidak akan bertemu pada muara yang benar yang diingini bersama. Don’t assume, just clear and clarify
  3. Merasakan perasaan komunikaan. Caranya adalah dengan menyamakan frame of experience and reference, ini adalah pintu masuk penerimaan komunikan kepada kita. Empati, samakan rasa dan karsa..rendahkan perasaan dan fisik

 

Family Project Komunikasi Produktif (Day 10)


Empati terhadap Keinginan anak

Akhir pekan bagi seorang ibu bekerja seperti saya adalah family time yang sangat berharga, terutama mencari aktivitas baru untuk anak-anak. Hari itu minggu awal februari. Saya berencana untuk mengikuti kegiatan Cimahi Hayu Maca, lapak membaca di salah satu taman kota cimahi yang setiap pekannya diisi dengan berbagai kegiatan seperti mendongeng, craft dan sebagainya. Pekan itu pengisi dongeng adalah fasil IIP Bandung yang orang cimahi yaitu The Cucu. Rekan-rekan di RB Cimahi pun ramai akan hadir.

Saya mensounding kepada anak-anak bahwa hari ini kita akan main ke Cimahi. Betapa bergembiranya anak-anak, terutama Shaffa (4.5y). Pagi hari saat saya sedang bebersih di halaman depan, tetangga seorang ibu yang sudah sepuh menghampiri saya dan mengajak untuk pergi ke arisan bareng saya. Astagfirullah, saya melupakan jadwal arisan RT, hari minggu di awal bulan. Ini momentum silaturahim dengan ibu-ibu RT dan membahas berbagai rencana maupun problematika di sekitar kami.

Shaffa sudah tidak sabar ingin ke cimahi, saya ajak ia ikut arisan. Arisan ini terletak di gedung serbaguna RT yang juga di dalamnya ada PAUD. Shaffa dan Maryam senang bermain dengan teman lainnya selama arisan. Sepulang arisan Shaffa terus menagih ayo kita ke cimahi.. saya melihat waktu untuk perjalanan sepertinya tidak terburu, acara keburu selesai. Namun lapak baca dibuka sampai jam13.

“Yuk, kita ke cimahi…kita membaca buku di taman kartini”. Ujarku

Shaffa tetiba protes.. “Bukan baca buku…kita main ke cimahi, mandi bola…”.

Saya nyengir… dan segera terkonek pada materi KOMPRO

oh Alloh…frame kita belum sama. Saya hanya mengajak shaffa: “Hari ini kita akan bermain ke cimahi”..

Lalu dalam benaknya, cimahi itu adalah arena bermain di Cimahi mall.

Kami adalah orang kabupaten yang berbatasan dengan kota cimahi dan kota bandung, orang pinggiran. Kami terbilang jarang pergi ke arah cimahi.. memori Shaffa tentang Cimahi adalah memang Cimahi mall, terutama arena bermain yang isinya bagaikan istana baginya. Arena bermain yang sangat luas dan lengkap dengan berbagai permainan. Mandi bola, perosotan, labirin, naik sepeda, mengecat..

Saya coba samakan frame fikiran dan mencoba menyelami perasaannya. Lalu saya pun menjelaskan maksud saya mengajaknya ke Cimahi. Saya jelaskan dengan memperlihatkan foto-foto kegiatan lap abaca di taman Kartini.. bahwa kita akan mendengar dongeng, membuat kreasi dari kokoru dan membaca di taman bersama teman-teman.

Shaffa tidak mau menerima dan protes sambil menangis. Dia menyampaikan sambil menangis kalau dia tidak suka dengan acara itu.. dia tetap mau bermain ke cimahi mall. Saya meneguhkan diri untuk tidak mengikuti keinginannya, saya sudah bertekad untuk mengurangi per mall-an.

Saya coba fahami perasaannya “Shaffa mau main yah..”. Shaffa: “Iya…” agak luluh suaranya. Saya bernegosiasi untuk mengganti keinginannya. Akhirnya luluh dengan : kita naik odong-odong ke Borma…. Borma yang letaknya tidak terlalu jauh seperti ke cimahi, dan sekalian belanja keperluan bulanan.

Tantangan komunikasi saat itu ternyata belum usai.. shaffa ingin bersegera ke Borma. Kami bernegosiasi kembali, saya ajak ke borma pukul 4 sore.. shaffa minta jam 1 siang. Saya turuti keinginannya karena melihatnya sudah lelah menangis dan bernegosiasi.

Saya melanjutkan pekerjaan rumah dan berkebun. Shaffa sudah ceria kembali lalu menghampiri saya yang sedang asik berkebun dan memanen kompos. Umi hayu udah jam1.. tuh lihat jarum pendeknya. Shaffa memang sedang antusias belajar tentang waktu.

Ketika itu matahari sangat terik, saya ajak Shaffa untuk bersabar “Kita tunggu agak teduh ya..nanti kepanasan kitanya, silaau..”. alhamdulillah, Shaffa kooperatif dan ceria. Iya mi.. lalu Shaffa membantu mengepel lantai teras. Berlangsunglah kegiatan kami bersama dengan menyenangkan.. menanam bibit ke wadah, mengepel teras.. Shaffa sangat bergembira, bayang-bayang cimahi mall dan kekecewaan sebelumnya seolah sirna menguap terkena teriknya matahari. Kami berdua menyelesaikan pekerjaan dengan menyenangkan sambil berbincang banyak hal…

Pukul 2.30 siang, setelah posisi matahari cukup bersahabat kami pergi ke Borma.

Alhamdulillaah, Allah memudahkan saya berlatih komunikasi produktif hari ini. Saya merasa ini suatu capaian terbaik,…

#day10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

 

Menunaikan Hak Anak


Semakin hari semakin menantang, perlu amunisi dan nutrisi ilmu. membuka buku Prophetic Parenting, menemukan tema yang sesuai.

 

Menunaikan hak anak dan menerima kebenaran darinya dapat menumbuhkan perasaan positif dalam dirinya dan sebagai pembelajaran bahwa kehidupan itu adalah memberi dan menerima. Di samping itu juga merupakan pelatihan bagi anak untuk tunduk kepada kebenaran, sehingga dengan demikian dia melihat suri teladan yang baik di hadapannya. Membiasakan diri dalam menerima dan tunduk pada kebenaran membuka kemampuannya untuk mengungkapkan isi hati dan menuntut apa yang menjadi haknya. Sebaliknya, tanpa hal ini akan menyebabkannya menjadi orang yang tertutup dan dingin.

Rasulullah saw meminta izin kepada anak kecil yang duduk di samping kanan beliau agar mau memberikan haknya (minum) kepada orang dewasa yang duduk di samping kiri beliau.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Sahl bin sa’ad RA:

Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam diberi minuman. Beliau minum. Sementara di samping kanan beliau duduklah seorang anak, dan di samping kiri beliau duduk orang-orang dewasa. Beliau bersabda kepada anak itu, “Apakah engkau mengizinkanku untuk memberi minum kepada mereka (terlebih dahulu)?” Dia menjawan, “Tidak, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun.” Maka, Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam meletakkan cawan itu di tangannya. Razin menambahkan, “Anak itu adalah al-Fadhl bin Abbas.”

Ketika seorang anak menghadang Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallams sebelum perang uhud (karena merasa haknya diambil), ia berkata kepada beliau kalau aku bergulat dengannya, aku dapat mengalahkannya. Maka, rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam mengizinkan mereka berdua bergulan dan dia pun dapat mengalahkan anak pamannya itu. Tidak ada alasan lagi  bagi Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam selain mengizinkannya menjadi serdadu Muslim.

Apakah ada orang di dunia ini yang lebih tinggi kedudukannya dan lebih banyak tentara dan pengikutnya dibandingkan Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam? Tidak!! Tetapi, walau demikian beliau tetap menerima kebenaran dari seorang anak kecil. Beliau telah mengajarkan dan memberi pengarahan kepada kita untuk selalu menerima kebenaran dari anak kecil tanpa disertai kesombongan, perasaan tinggi hati dan merendahkan anak kecil tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan ad-Dailami dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

Aku berkata kepada NAbi shallallaahu ‘alayhi wa sallam, “Ajarilah aku beberapa kalimat yang bersifat universal dan bermanfaat.” Beliau bersabda, “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah engkau sekutukan Dia dengan sesuatu apa pun. Selalu berpeganglah dengan Al-Qur’an dalam kondisi apapun. Terimalah kebenaran dari siapapun yang membawanya, baik masih anak-anak atau sudah dewasa, walaupun kamu benci dan jauh. Tolaklah kebatilan dari siapa pun yang membawanya, baik masih anak-anak atau sudah dewasa, walaupun kamu cintai dan dekat.”

Family Project Komunikasi Produktif (Day9)


Ini dulu, baru itu

Saya sedang memasak sore, anak-anak bermain dengan mainannya. Maryam minta untuk naik ayunan. Ayunan buatan di rumah, dari hanaroo yang sudah jarang dipakai dan kain sarung. Untuk bermain ayunan itu bagi seusia Maryam (2 tahun) memang perlu bantuan orang dewasa. Berbeda dengan shaffa yang sudah bisa sendiri dan pandai bermain ayunan.

Saya bilang, coba minta tolong ke ayah..tangan umi kotor. Maryam memanggil “ayah, mau ayun-ayuun”, dan saya pun kasih kode ke suami. Saat saya lihat ternyata di sekitar ayunan masih berserakan mainan. Saya sampaikan kepada Maryam. Boleh main ayunan, tapi mainannya dibereskan dulu. Nanti bisa kacugak (terinjak), sakit.. nanti terpeleset jatuh. Gimana…Alhamdulillah, Maryam langsung menurut dan memungut mainannya kedalam box, ayah membantunya. Lalu menaikkannya ke ayunan dan swiing..swiing..

Yang saya rasakan dari kesuksesan komunikasi di atas adalah dari kondisi hati. Hindari keluhan, bisa saja saya mengeluh karena sedang pakpikpuk di dapur. Bantu anak mendapat alasan kenapa mainan harus dibereskan dulu (melatih nalar) sehingga faham, lalu mengkomunikasikannya dengan baik. Memandangnya, juga turut membantunya.. tidak hanya sekedar menyuruh saja.

#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Family Project Komunikasi Produktif (Day8)


Clear and Clarify

Diskusi tentang syiah

Tabayyun itu adalah memastikan suatu berita kepada sumbernya. Hari itu sahabat saya memposting screen shoot tabayun seseorang kepada seorang tokoh yang banyak dikira Syiah, mba “Sidratun Naim”. Seperti biasa, mba Naim menanggapi dengan panjang lebar..dan kesimpulan akhir ada pada kita sebagai pengamat. Apakah beliau syiah atau bukan.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berkunjung ke rumah mba Naim, dan saya belum tahu mengenai isu syiah beliau. Saya takjub dengan kecerdasannya. Seorang PhD dari Kedokteran Harvadr University, yang juga master Public administration, ilmu leadership, dan sebagainya. Saat saya tahu tentang kedekatan beliau dengan tokoh syiah yang ternama dan ada teman mengingatkan bahwa nama anak mba Naim adalah tokoh Syiah. Dari situ saya menyimpulkan hal yang sama dengan kebanyakan, tanpa tabayyun.

Diskusi keluarga ketika itu adalah perihal tabayyun. Saya mengalami masa yang sama saat menerima isu syiah guru kami, founder IIP..Ibu Septi. Seorang rekan pernah meminta saya untuk tidak aktif di IIP karena isu syiah itu. Waduh, berat untuk meninggalkan IIP bagi saya ilmu dan value di IIP itu sangat bagus, juga orang-orang di dalamnya saya temukan banyak orang-orang yang faham dan se-visi. Saya telusuri kebenaran isu itu kepada orang-orang pendahulu IIP, dan mencari kenyamanan di hati. “Ambillah fatwa dari hatimu”. Saya tidak menemui hal yang menyimpang dari ilmu yang diajarkan guru saya, dan kesimpulan fatwa hati dari hasil pencarian saya adalah Bu Septi bukan Syiah.

Suami saya menyampaikan, bahwa Skripsinya membahas tentang budaya tabik di pariaman. Budaya tabik ini adalah budaya orang syiah. Suami juga menjelaskan tentang jenis-jenis syiah,.. ah, seru diskusi dengannya. Bagi seorang saya yang science abis, bertanya kepadanya bagaikan berselancar di google social science..haha.

Suami saya bilang “kenapa tidak ada yang mencap ayah sebagai syiah ya..?. kan ayah menyentuh soal syiah. Yah, siapalah seorang saya”. Mungkin nanti kalau ayah terkenal akan ada yang mengungkit soal ini. Walaaah. Kepedean. Ya, pasalnya isu itu (ujian) mendera sesuai dengan tingkatan level seseorang. Bagi Bu Septi, isu syiah datang disaat beliau sedang menaiki puncak eksistensi. Begitu juga dengan mba Naim.

Berusaha tabayyun, bertanya dari berbagai sumber dan perspektif. Bersihkan hati apa yang ingin dicari. Kesimpulan kami, untuk berguru ilmu adalah kepada siapapun. Baik kepada yahudi, nasrani, bahkan Rasulullah menyuruh kita belajar sampai ke negeri Cina. Apakah rasul membatasi belajar hanya kepada orang muslim saja?. Tapi yang kami tangkap adalah “Belajarlah kepada ahlinya”. Pasti dalam berguru, bermuamalah kita akan bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang yang kepercayaan,etnis yang berbeda. Hal yang benar (Haq) itu jelas, yang salah (bathil) juga jelas. Al-qur’an adalah sumber ilmu dan petunjuk pembedanya (Furqan). Hati dan akal kita adalah senjatanya.

 

#day8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip