Merancang Family Project


dayroject pertama family project kami adalah mengurangi gadget time anak-anak, karena ini hal yang sangat urgent menurut kami. Setelah mencoba mengurai penyebabnya, hal ini berawal dari kesibukan kami. Kami berdua sepakat untuk membersamai tumbuh kembang anak-anak berdua tanpa pengasuh. Posisi rumah kami yang berdekatan dengan orangtua, memudahkan kami untuk menitipkan anak ketika kami berdua sama-sama ada keperluan.
Di rumah orangtua sudah saya sediakan mainan, buku cerita dan alat gambar. Namun sepertinya godaan gadget semakin aduhai. Ditambah lagi TV LCD layar lebar dengan sajian Disney junior membuat Shaffa dan Maryam lebih betah di rumah eyangnya. Ibu saya sangat mudah memberi Maryam Youtube di HP. Jika saya pulang, Shaffa pasti minta saya meminjamkan tablet untuknya. Terkadang saat saya pulang ia menyambut saya lalu menyerbu tas saya, mencari tablet >.<
Memberi projek kegiatan kepada anak saat dititip di rumah orangtua belum bisa menjadi solusi, karena orangtua akan kerepotan. Sudah dititipi anak, dititipi projek aktivitas pula. Selain itu, maryam sangat susah pulang jika sudah dengan ibu saya, dan sering meminta digendong. Maryam menjadi sangat manja. Ibu saya akan lelah dibuatnya.
Sehingga projek yang kami sepakati adalah:
Untuk saya dan suami, mengatur jadwal dan konsisten. Betul, kami berdua sibuk dan punya urusan, tapi pertarungan kami adalah masa depan dan hak anak. maka, kami sepakat. Saya berangkat lebih pagi untuk pulang siang sehingga suami bisa beraktifitas di siang hari. Jika saya ada keperluan agak lama (full day) saya mesti mencari hari dimana suami free day dan dapat full di rumah bersama anak-anak.
Memperkaya kegiatan untuk anak-anak. Agar teralihkan perhatiannya dari layar.

Tantangan Kemandirian Maryam


Keberhasilan perdana Maryam pup di atas WC ternyata sudah dimulai sekitar sepekan sebelumnya, sebelum tantangan kemandirian bunda saying dimulai. Ketika itu kami bepergian dan saya mampir ke kampus mengambil barang anak-anak bersama ayahnya dan maryam ternyata minta pup. Suami melatihnya untuk berani di atas closen (wc duduk), masih sambil dipegangi.

Alhamdulilah saat bersama saya di rumah maryam sudah mau dikondisikan untuk pup di wc meski masih minta dibantu dan belum berani melepas pegangan saat jongkok. Saat dititip di rumah orang tua karena wc duduk maryam belum berani dan tidak ada alat bantu untuk anak. karena ketidak konsistenan ini maryam kadang suka lupa jika di rumah ia belum reflex untuk ke atas wc, masih harus diingatkan.

Kemarin (selang 3 pekan), maryam minta sendiri untuk pup di atas wc. Dan berujar sendiri “yee..aku pintar… bisa di atas” 😀

#kuliahbunsayiip
#day2
#tantangan10hari
#tantangankemandirian

Kami & Toilet Training


Tantangan Bunda Sayang bulan kedua adalah melatih kemandirian anak. Sebagai seorang fasilitator, saya bertugas memandu peserta untuk berdiskusi mengenai materi dan tantangan kemandirian yang diambil. Timbul pertanyaan dari peserta bagaimana cerita sukses saya melakukan toilet training dengan keadaan sambil bekerja.

Kesadaran melakukan (mempercepat) toilet training bermula dari sebuah perbincangan para ibu muda di grup angkatan S-2. Kami berdiskusi mengenai clodi versus diapers. Clodi (cloth diapers) adalah diapers yang terbuat dari kain sehingga bisa digunakan kembali. Tanggapan teman-teman beragam. Ada yang berpendapat dari segi higienitas, bahwa lebih baik menggunakan diapers karena clodi dicuci ulang belum tentu sepenuhnya bersih. Ada yang berpendapat dari segi efektifitas. Clodi tidak efisien dan efektif karena perlu waktu mencuci, mengeringkan, menyetrika. Dengan memakai pospak waktu bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang lebih produktif. Seorang rekan menilai dari segi ekonomisnya. Saya sebagai seorang yang peduli lingkungan menilai dari segi lingkungan. Betapa bumi ini sudah sangat lelah dengan limbah yang terus bertambah. Saya mendukung clodi, pospak biarlah menjadi alternatif. Kemudian seorang rekan yang lebiih senior dari kami berpendapat dengan sangat bijak.

Pospak, clodi bukan pilihan. Mau pakai pospak atau clodi, tugas utama kita adalah memandirikan anak, membuatnya segera bisa ke kamarmandi sendiri. Melepas sedini mungkin pospak dan clodi dari kehidupannya. Jangan merasa nyaman dengan pilihan pospak atau clodi. Lalu dia pun berbagi, saat anaknya usia 1 tahun, lepas total diapers. Lap pel menjadi senjatanya. Padahal ia adalah ibu bekerja.

Saya juga seorang ibu bekerja, alhamdulillah bergabung di komunitas IIP dan CERIA ketika itu. Dalam pematerian dan diskusi langsung dengan Bu Septi mengenai Kemandirian anak di grup CERIA, saya bertanya tentang melatih toilet training. Bu Septi menyampaikan bahwa kuncinya adalah konsisten, setidaknya perlu waktu 6 bulan. Ketika itu anak pertama (shaffa) menginjak usia 2tahun dan saya sedang hamil anak ke-2. Bismillah, saya coba konsistenkan latihan toilet training shaffa. Menjelang akan melahirkan Maryam, ada waktu cuti. Saya optimalkan toilet training shaffa. Betul sekali apa yang disampaikan Bu Septi. 6 bulan berselang, shaffa lulus toilet training (usia 2.5 tahun), tidak lama adik shaffa lahir. Alhamdulillah, jadi kakak dengan sudah mandiri toiletnya…

Berkaca dari pengalaman anak pertama, saya lebih dini melatih Maryam toilet training. Usia 1 tahun sudah mulai disounding dan simulasi ke toilet. Karena saya menyambi bekerja, konsistensi sangat menantang. Saya baru fokus toilet training usia Maryam 18 bulan. Alhamdulillah menjelang 2 tahun Maryam lulus asi sekaligus toilet training. Tahapan – tahapan toilet training yang bisa dibagi :

  1. Melakukan sounding kepada anak, lebih mudah melalui dongeng. Rutinitas anak-anak sebelum tidur adalah mendongeng. Aspek kemandirian yang sedang ingin ditanamkan bisa kita masukkan melalui dongeng, alhamdulillah lebih mudah untuk memahamkan instruksi selanjutnya
  2. Pelajari ritme anak ke toilet. Dimulai dari bangun tidur, langsung ajak anak ke kamar mandi. Siram kakinya agar merasakan sensasi dingin (merangsang pipis). Jika ada yang menggunakan potty, tetap lakukan di dalam kamar mandi..karena yang kita latih adalah kebiasaan ke toilet, bukan hanya pipisnya saja. Selanjutnya ajak anak ke kamar mandi sesuai dengan ritme yang sudah diketahui
  3. Komunikasi produktif. Beri instruksi yang jelas kepada anak. Pada awalnya instruksi saya : Kalau mau pipis/ee bilang ya “mi…mau pipis/ee”. Yup, ia hanya sekedar bilang..memberi tahu. Suatu ketika saya sedang repot memasak, Maryam minta pipis. Lalu dengan nada mengomel saya minta ia ke kamar mandi dan pipis sendiri. Saya fikirkan lagi, instruksinya masih belum diubah, masih sebatas : kalau mau pipis bilang ya. Maka dari sana saya ubah instruksi. ‘Maryam pergi ke kamar mandi lalu buka celana, pipis deh…’ sambil saya simulasikan. Termasuk saat anak kebocoran pipis tidak di Kamar mandi, jangan panic/marah duluan. Komunikasikan dengan baik kepada anak untuk tidak beranjak karena bisa terpeleset. Amunisi sudah siap, kain lap tebal (saya memakai kain pernel bayi) buat menyerap pipisnya lalu dibersihkan kemudian.
  4. Konsisten, kunci utamanya. Saat totee dimulai, pantang pasang diapers. Anak akan bingung jika selang-seling, saya memahami itu. Setelah anak sudah mulai terlatih dia akan lupa lagi karena ritmenya berbeda. Tiba-tiba dibiarkan boleh pipis di diaper/clodi. Baik saat tidur maupun bepergian. Saya siapkan alas ompol saat tidur, saat bepergian saya terus sounding dan ditanya berulang. Mau pipis/ee?. Saya juga membawa bekal baju ganti (untuk saya) kalau-kalau dia bocor saat tidur di pangkuan. Jangan berikan diapers/clodi biarkan anak merasakan sensasi tidak nyaman saat kebocoran. Berikan instruksi yang sama kepada asisten, sehingga anak menerima hal sama meskipun tidak bersama kita.
  5. Terus tanamkan kepercayaan kepada anak dengan memberikan kata-kata positif, InsyaAllah menjadi doa. “Maryam pinter..pipisnya bisa di kamar mandi”.
  6. Berikan reward saat berhasil, bisa dengan pujian dan antusiasme kita. Saya membuat bintang dari kain flannel lalu ditempel di tembok saat maryam berhasil. Ada perlakuan yang berbeda saat ia berhasil dan tidak, itu akan melekatkan memory dan memotivasinya. Saat ia bocor, perlihatkan rasa kecewa atau sedih kita “yah..maryam lupa ya pipisnya. Umi sedih deh..:( “
  7. Amunisi semangat dan kesabaran tanpa batas, memohon kepada Allah dengan doa dan doa. Ini tak kalah penting..

Sekarang (Maret 2017) usia Maryam menginjak 2tahun 5 bulan dan Shaffa 4 tahun 8 bulan. Saat forum keluarga, saya dan suami sepakat untuk menuntaskan maryam perihal toiletnya. Meskipun sudah bisa ke toilet, untuk pup masih belum berani di atas closet. Jadi tantangan pekan pertama untuk maryam adalah pup di atas closet, dan untuk shaffa adalah meminta tanpa berteriak.

#tantangan10hari
#day1
#kuliahbunsayiip
#tantangankemandirian

Aliran rasa tantangan Komunikasi Produktif


Mengambil tantangan mengamalkan Komunikasi Produktif adalah pembelajaran yang sangat luar biasa, terutama bagi seorang saya yang memiliki kelemahan dalam hal komunikasi. Komunikasi adalah menyampaikan pesan, pintu masuk penerimaan seseorang kepada kita sebagai pemberi pesan. Dari tantangan yang sudah dijalankan, saya menemui berbagai temuan baru bagi diri saya, evaluasi yang dapat dijadikan hikmah untuk perbaikan kedepannya.

  1. Gestur dan Bahasa tubuh, tatapan mata. Ini perlu saya biasakan agar menjadi habit dan karakter
  2. Kosongkan gelas. Hindari berasumsi. Komunikasi juga adalah menerima informasi. Jika sudah ada asumsi, terutama asumsi yang negative komunikasi sudah tidak akan clear lagi. Tidak akan bertemu pada muara yang benar yang diingini bersama. Don’t assume, just clear and clarify
  3. Merasakan perasaan komunikaan. Caranya adalah dengan menyamakan frame of experience and reference, ini adalah pintu masuk penerimaan komunikan kepada kita. Empati, samakan rasa dan karsa..rendahkan perasaan dan fisik

 

Family Project Komunikasi Produktif (Day 10)


Empati terhadap Keinginan anak

Akhir pekan bagi seorang ibu bekerja seperti saya adalah family time yang sangat berharga, terutama mencari aktivitas baru untuk anak-anak. Hari itu minggu awal februari. Saya berencana untuk mengikuti kegiatan Cimahi Hayu Maca, lapak membaca di salah satu taman kota cimahi yang setiap pekannya diisi dengan berbagai kegiatan seperti mendongeng, craft dan sebagainya. Pekan itu pengisi dongeng adalah fasil IIP Bandung yang orang cimahi yaitu The Cucu. Rekan-rekan di RB Cimahi pun ramai akan hadir.

Saya mensounding kepada anak-anak bahwa hari ini kita akan main ke Cimahi. Betapa bergembiranya anak-anak, terutama Shaffa (4.5y). Pagi hari saat saya sedang bebersih di halaman depan, tetangga seorang ibu yang sudah sepuh menghampiri saya dan mengajak untuk pergi ke arisan bareng saya. Astagfirullah, saya melupakan jadwal arisan RT, hari minggu di awal bulan. Ini momentum silaturahim dengan ibu-ibu RT dan membahas berbagai rencana maupun problematika di sekitar kami.

Shaffa sudah tidak sabar ingin ke cimahi, saya ajak ia ikut arisan. Arisan ini terletak di gedung serbaguna RT yang juga di dalamnya ada PAUD. Shaffa dan Maryam senang bermain dengan teman lainnya selama arisan. Sepulang arisan Shaffa terus menagih ayo kita ke cimahi.. saya melihat waktu untuk perjalanan sepertinya tidak terburu, acara keburu selesai. Namun lapak baca dibuka sampai jam13.

“Yuk, kita ke cimahi…kita membaca buku di taman kartini”. Ujarku

Shaffa tetiba protes.. “Bukan baca buku…kita main ke cimahi, mandi bola…”.

Saya nyengir… dan segera terkonek pada materi KOMPRO

oh Alloh…frame kita belum sama. Saya hanya mengajak shaffa: “Hari ini kita akan bermain ke cimahi”..

Lalu dalam benaknya, cimahi itu adalah arena bermain di Cimahi mall.

Kami adalah orang kabupaten yang berbatasan dengan kota cimahi dan kota bandung, orang pinggiran. Kami terbilang jarang pergi ke arah cimahi.. memori Shaffa tentang Cimahi adalah memang Cimahi mall, terutama arena bermain yang isinya bagaikan istana baginya. Arena bermain yang sangat luas dan lengkap dengan berbagai permainan. Mandi bola, perosotan, labirin, naik sepeda, mengecat..

Saya coba samakan frame fikiran dan mencoba menyelami perasaannya. Lalu saya pun menjelaskan maksud saya mengajaknya ke Cimahi. Saya jelaskan dengan memperlihatkan foto-foto kegiatan lap abaca di taman Kartini.. bahwa kita akan mendengar dongeng, membuat kreasi dari kokoru dan membaca di taman bersama teman-teman.

Shaffa tidak mau menerima dan protes sambil menangis. Dia menyampaikan sambil menangis kalau dia tidak suka dengan acara itu.. dia tetap mau bermain ke cimahi mall. Saya meneguhkan diri untuk tidak mengikuti keinginannya, saya sudah bertekad untuk mengurangi per mall-an.

Saya coba fahami perasaannya “Shaffa mau main yah..”. Shaffa: “Iya…” agak luluh suaranya. Saya bernegosiasi untuk mengganti keinginannya. Akhirnya luluh dengan : kita naik odong-odong ke Borma…. Borma yang letaknya tidak terlalu jauh seperti ke cimahi, dan sekalian belanja keperluan bulanan.

Tantangan komunikasi saat itu ternyata belum usai.. shaffa ingin bersegera ke Borma. Kami bernegosiasi kembali, saya ajak ke borma pukul 4 sore.. shaffa minta jam 1 siang. Saya turuti keinginannya karena melihatnya sudah lelah menangis dan bernegosiasi.

Saya melanjutkan pekerjaan rumah dan berkebun. Shaffa sudah ceria kembali lalu menghampiri saya yang sedang asik berkebun dan memanen kompos. Umi hayu udah jam1.. tuh lihat jarum pendeknya. Shaffa memang sedang antusias belajar tentang waktu.

Ketika itu matahari sangat terik, saya ajak Shaffa untuk bersabar “Kita tunggu agak teduh ya..nanti kepanasan kitanya, silaau..”. alhamdulillah, Shaffa kooperatif dan ceria. Iya mi.. lalu Shaffa membantu mengepel lantai teras. Berlangsunglah kegiatan kami bersama dengan menyenangkan.. menanam bibit ke wadah, mengepel teras.. Shaffa sangat bergembira, bayang-bayang cimahi mall dan kekecewaan sebelumnya seolah sirna menguap terkena teriknya matahari. Kami berdua menyelesaikan pekerjaan dengan menyenangkan sambil berbincang banyak hal…

Pukul 2.30 siang, setelah posisi matahari cukup bersahabat kami pergi ke Borma.

Alhamdulillaah, Allah memudahkan saya berlatih komunikasi produktif hari ini. Saya merasa ini suatu capaian terbaik,…

#day10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

 

Menunaikan Hak Anak


Semakin hari semakin menantang, perlu amunisi dan nutrisi ilmu. membuka buku Prophetic Parenting, menemukan tema yang sesuai.

 

Menunaikan hak anak dan menerima kebenaran darinya dapat menumbuhkan perasaan positif dalam dirinya dan sebagai pembelajaran bahwa kehidupan itu adalah memberi dan menerima. Di samping itu juga merupakan pelatihan bagi anak untuk tunduk kepada kebenaran, sehingga dengan demikian dia melihat suri teladan yang baik di hadapannya. Membiasakan diri dalam menerima dan tunduk pada kebenaran membuka kemampuannya untuk mengungkapkan isi hati dan menuntut apa yang menjadi haknya. Sebaliknya, tanpa hal ini akan menyebabkannya menjadi orang yang tertutup dan dingin.

Rasulullah saw meminta izin kepada anak kecil yang duduk di samping kanan beliau agar mau memberikan haknya (minum) kepada orang dewasa yang duduk di samping kiri beliau.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Sahl bin sa’ad RA:

Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam diberi minuman. Beliau minum. Sementara di samping kanan beliau duduklah seorang anak, dan di samping kiri beliau duduk orang-orang dewasa. Beliau bersabda kepada anak itu, “Apakah engkau mengizinkanku untuk memberi minum kepada mereka (terlebih dahulu)?” Dia menjawan, “Tidak, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun.” Maka, Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam meletakkan cawan itu di tangannya. Razin menambahkan, “Anak itu adalah al-Fadhl bin Abbas.”

Ketika seorang anak menghadang Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallams sebelum perang uhud (karena merasa haknya diambil), ia berkata kepada beliau kalau aku bergulat dengannya, aku dapat mengalahkannya. Maka, rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam mengizinkan mereka berdua bergulan dan dia pun dapat mengalahkan anak pamannya itu. Tidak ada alasan lagi  bagi Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam selain mengizinkannya menjadi serdadu Muslim.

Apakah ada orang di dunia ini yang lebih tinggi kedudukannya dan lebih banyak tentara dan pengikutnya dibandingkan Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam? Tidak!! Tetapi, walau demikian beliau tetap menerima kebenaran dari seorang anak kecil. Beliau telah mengajarkan dan memberi pengarahan kepada kita untuk selalu menerima kebenaran dari anak kecil tanpa disertai kesombongan, perasaan tinggi hati dan merendahkan anak kecil tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan ad-Dailami dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

Aku berkata kepada NAbi shallallaahu ‘alayhi wa sallam, “Ajarilah aku beberapa kalimat yang bersifat universal dan bermanfaat.” Beliau bersabda, “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah engkau sekutukan Dia dengan sesuatu apa pun. Selalu berpeganglah dengan Al-Qur’an dalam kondisi apapun. Terimalah kebenaran dari siapapun yang membawanya, baik masih anak-anak atau sudah dewasa, walaupun kamu benci dan jauh. Tolaklah kebatilan dari siapa pun yang membawanya, baik masih anak-anak atau sudah dewasa, walaupun kamu cintai dan dekat.”

Family Project Komunikasi Produktif (Day9)


Ini dulu, baru itu

Saya sedang memasak sore, anak-anak bermain dengan mainannya. Maryam minta untuk naik ayunan. Ayunan buatan di rumah, dari hanaroo yang sudah jarang dipakai dan kain sarung. Untuk bermain ayunan itu bagi seusia Maryam (2 tahun) memang perlu bantuan orang dewasa. Berbeda dengan shaffa yang sudah bisa sendiri dan pandai bermain ayunan.

Saya bilang, coba minta tolong ke ayah..tangan umi kotor. Maryam memanggil “ayah, mau ayun-ayuun”, dan saya pun kasih kode ke suami. Saat saya lihat ternyata di sekitar ayunan masih berserakan mainan. Saya sampaikan kepada Maryam. Boleh main ayunan, tapi mainannya dibereskan dulu. Nanti bisa kacugak (terinjak), sakit.. nanti terpeleset jatuh. Gimana…Alhamdulillah, Maryam langsung menurut dan memungut mainannya kedalam box, ayah membantunya. Lalu menaikkannya ke ayunan dan swiing..swiing..

Yang saya rasakan dari kesuksesan komunikasi di atas adalah dari kondisi hati. Hindari keluhan, bisa saja saya mengeluh karena sedang pakpikpuk di dapur. Bantu anak mendapat alasan kenapa mainan harus dibereskan dulu (melatih nalar) sehingga faham, lalu mengkomunikasikannya dengan baik. Memandangnya, juga turut membantunya.. tidak hanya sekedar menyuruh saja.

#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Family Project Komunikasi Produktif (Day8)


Clear and Clarify

Diskusi tentang syiah

Tabayyun itu adalah memastikan suatu berita kepada sumbernya. Hari itu sahabat saya memposting screen shoot tabayun seseorang kepada seorang tokoh yang banyak dikira Syiah, mba “Sidratun Naim”. Seperti biasa, mba Naim menanggapi dengan panjang lebar..dan kesimpulan akhir ada pada kita sebagai pengamat. Apakah beliau syiah atau bukan.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berkunjung ke rumah mba Naim, dan saya belum tahu mengenai isu syiah beliau. Saya takjub dengan kecerdasannya. Seorang PhD dari Kedokteran Harvadr University, yang juga master Public administration, ilmu leadership, dan sebagainya. Saat saya tahu tentang kedekatan beliau dengan tokoh syiah yang ternama dan ada teman mengingatkan bahwa nama anak mba Naim adalah tokoh Syiah. Dari situ saya menyimpulkan hal yang sama dengan kebanyakan, tanpa tabayyun.

Diskusi keluarga ketika itu adalah perihal tabayyun. Saya mengalami masa yang sama saat menerima isu syiah guru kami, founder IIP..Ibu Septi. Seorang rekan pernah meminta saya untuk tidak aktif di IIP karena isu syiah itu. Waduh, berat untuk meninggalkan IIP bagi saya ilmu dan value di IIP itu sangat bagus, juga orang-orang di dalamnya saya temukan banyak orang-orang yang faham dan se-visi. Saya telusuri kebenaran isu itu kepada orang-orang pendahulu IIP, dan mencari kenyamanan di hati. “Ambillah fatwa dari hatimu”. Saya tidak menemui hal yang menyimpang dari ilmu yang diajarkan guru saya, dan kesimpulan fatwa hati dari hasil pencarian saya adalah Bu Septi bukan Syiah.

Suami saya menyampaikan, bahwa Skripsinya membahas tentang budaya tabik di pariaman. Budaya tabik ini adalah budaya orang syiah. Suami juga menjelaskan tentang jenis-jenis syiah,.. ah, seru diskusi dengannya. Bagi seorang saya yang science abis, bertanya kepadanya bagaikan berselancar di google social science..haha.

Suami saya bilang “kenapa tidak ada yang mencap ayah sebagai syiah ya..?. kan ayah menyentuh soal syiah. Yah, siapalah seorang saya”. Mungkin nanti kalau ayah terkenal akan ada yang mengungkit soal ini. Walaaah. Kepedean. Ya, pasalnya isu itu (ujian) mendera sesuai dengan tingkatan level seseorang. Bagi Bu Septi, isu syiah datang disaat beliau sedang menaiki puncak eksistensi. Begitu juga dengan mba Naim.

Berusaha tabayyun, bertanya dari berbagai sumber dan perspektif. Bersihkan hati apa yang ingin dicari. Kesimpulan kami, untuk berguru ilmu adalah kepada siapapun. Baik kepada yahudi, nasrani, bahkan Rasulullah menyuruh kita belajar sampai ke negeri Cina. Apakah rasul membatasi belajar hanya kepada orang muslim saja?. Tapi yang kami tangkap adalah “Belajarlah kepada ahlinya”. Pasti dalam berguru, bermuamalah kita akan bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang yang kepercayaan,etnis yang berbeda. Hal yang benar (Haq) itu jelas, yang salah (bathil) juga jelas. Al-qur’an adalah sumber ilmu dan petunjuk pembedanya (Furqan). Hati dan akal kita adalah senjatanya.

 

#day8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Family Project Komunikasi Produktif (Day7)


Meninggikan standar

Refleksi komunikasi produktif kali ini adalah berdiskusi dengan pasangan. Saya menyampaikan tentang anak-anak. Shaffa itu keinginannya kuat. Dia belum mau pakai jilbab ke luar. Saat disodori, ia sering menolak tanpa alasan. Kekeuh tidak mau. Saat dibujuk lagi, dia bilang itu suka gatal. Saya carikan jilbab yang adem.. kadang mau,kadang tidak. Suami bilang sudah ngga perlu dipaksa, belum saatnya juga.

Iya, saya tidak memaksa. Jika tidak mau saya tidak memaksa untuk pakai jilbab. Diskusi kami tiba pada tantangan mendidik anak di akhir zaman. Anak kita besar nanti, entah zaman seperti apa yang akan dihadapi. Maka kita perlu meninggikan standar mendidik mereka. Bukan meninggikan standar memaksa, namun meninggikan standar kita dalam membersamainya, dengan berkualitas sesuai dengan standar yang sempurna. Standar Islam.

Bagaimana memahamkan dia soal berjilbab, sholat, dan perkara baik lainnya. Mereka belum memasuki masa tadrib (pembebanan), tugas kita terus menumbuh suburkan fitrah keimanannya. Menyampaikan harapan kita kepadanya. Harapannya kita bisa percepatan, sehingga anak dapat menaiki tangga demi tangga pembelajaran dan kemandirian. Squad tim. Kita harus jadi tim yang solid. Ini amanah berat, angin zaman semakin kencang.

 

#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Family Project Komunikasi Produktif (Day6)


Berhenti menakut-nakuti anak (2)

Pelajaran dari hari sebelumnya, berusaha diaplikasikan lagi. Menakut-nakuti anak sering saya lakukan saat mereka sulit keluar kamar mandi. Setiap anak pasti suka air..dan setiap mandi mereka pasti bermain. Hal yang paling jitu adalah bilang : “kalau lama-lama di air nanti tikus datang dari lubang” sambil menunjuk lubang pipa di atas.. dengan mudah mereka turun dari jolang  sambil bilang. Iih, takuut.

Namun hari itu saya berusaha menghapus sedikit demi sedikit cara itu. Ketika itu hanya Maryam saja yang sedang mandi. “Maryam, ayo…sudah mau magrib. Nanti kedinginan….” Masih anteng. Karena dia suka makan, saya bilang.. “ini umi masak baso lho..nanti habis sama shaffa”. Ketika itu saya masak bihun baso. Dia langsung beranjak dari kenyamanan berendam di ember.

Ada hukuman ada reward.

Usia anak masih sangat konkret, ia akan bertindak sesuai dengan dorongan (apa) yang ia rasakan. Bisa karena apa yang ditakuti, bisa karena apa yang ingin ia dapatkan. Bertindak karena ketakutan sama dengan membekali (menginput) memori-memori ketakutan, sehingga di kepalanya akan banyak hal yang ditakuti. Namun bertindak karena hal yang ia senangi, ia belajar berjuang. Melakukan usaha untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Alhamdulillah, melakukan projek dan menuliskannya membuat saya merefleksi hikmah.

 

#day6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip